Pusakanesia

Pusaka Negeri Untuk Berbakti

 
Aku
Hanya orang biasa yang suka memandangi keindahan masa kini. Aku suka menikmati indahnya masa silam pada bentuk yang masih tersisa. Aku hanya ALIM yang ingin berbagi apa yang pernah aku baca, aku lihat, dan aku dengar. Aku hanya ALIM yang ingin bersama-sama menjaga kenangan sejarah yang masih tersisa.
Aksi
Asa
Menapak kembali jalanan hidup. Walau kerikil khilaf dan salah menghadang, tetap harus kita tatap. Setelah sebulan kita berusaha membasuh jiwa, agar di 1 Syawal bisa kembali ke fitrah. Mari saling buka hati untuk menebar maaf. Melanglang hari baru dengan jiwa bersih dan tujuan mulia, menjadi hamba dengan ridho Ilahi. Amin!
Aktif

Free shoutbox @ ShoutMix
Hit
free hit counters
Press Release
24 Oktober 2008
Mpu Topeng Malang Sakit Keras
Topeng Mbah Karimun hendak Dilelang


Mpu Topeng Malang, Mbah Karimun, kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Pendengarannya terganggu, ingatannya melemah, dan badannya sudah susah untuk digerakkan. Pihak keluarga mengaku, Mbah Karimun membutuhkan perawatan medis yang intensif.
Handoyo, cucu Mbah Karimun, menyatakan bahwa kakeknya kini harus istirahat total. Hal itu berkaitan dengan kecelakaan yang menimpa Mbah Karimun, sepuluh tahun lalu. Tapi memang, sang maestro topeng tersebut telah tua. "Tiga bulan lalu, Mbah Karimun masih memaksakan diri untuk membuat topeng. Beliau juga masil berlatih tari. Tapi kini semuanya tak bisa lagi dikerjakan," tutur Handoyo, Jumat (24/10).
Persoalannya adalah biaya. Pihak keluarga tidak memiliki cukup dana untuk pengobatan dan perawatan medis. Padahal kesehatan Mbah Karimun sudah dalam kondisi kritis. Perawatan medis mutlak diberikan.
Solusinya, Handoyo berencana melelang dua topeng Mbah Karimun. Lelang akan diadakan di panggung G Walk, Citra Raya, Surabaya Barat. Pelaksanaannya hari Jumat, 1 November 2008, pukul 19.00 WIB.
Berkenaan dengan acara lelang, utamanya demi pemenuhan biaya perawatan Mbah Karimun, Dewan Kesenian Jawa Timur berharap kepada pihak-pihak terkait untuk turut berpartisipasi. Menghadiri acara lelang dan berkenan memberi bantuan. "Ini semua demi Mbah Karimun. Kami berharap, banyak kalangan tergugah untuk memberi bantuan kepada Mpu Topeng Malang, yaitu Mbah Karimun," ujar Heri Lentho, pengurus DKJT.


Infotmasi:
Lelang Topeng Mbah Karimun
Jumat, 1 November 2008
Pukul 19.00 WIB
Panggung G-Walk
Citra Raya Surabaya Barat
cp: Handoyo 08175404437, dan Heri Lentho 081851220

Komplitnya !
posted by Alim @ Jumat, Oktober 24, 2008   1 comments
Minal Aidin wal Faidzin
07 Oktober 2008
Selamat Hari Raya
Idul Fitri 1429 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin


Komplitnya !
posted by Alim @ Selasa, Oktober 07, 2008   0 comments
Barang Antik
28 Agustus 2008
Barang Antik Tertatih tapi Prospektif

Tak banyak memang yang berminat, tapi geliatnya tak pernah mati. Jual beli barang usang ini harus bersabar menunggu lintasan waktu. Karena barang antik makin tua makin janjikan duit.


S
ebagian besar berangkat dari kegemaran menyimpan barang-barang sisa peninggalan. Dari hobi mengoleksi barang-barang usang. Karena yang usang itu setelah sekian waktu menawarkan eksotika tersendiri.

Beberapa kalangan menganggap yang antik yang paling menarik. Dengan kehadirannya disekitar kita barang antik menyeret pada atmosfer kenangan. Selain memberikan warna estetis pada sudut-sudut interior rumah.

Berbeda dengan penghobi, konon ada pula orang yang hanya ikut-ikutan menyukai barang antik. Hanya karena melihat teman atau tetangganya memiliki barang antik, mereka pun tak tahan untuk segera mendapatkannya. Dan anehnya yang diinginkan adalah barang dengan jenis yang sama. Mana mungkin!


Ada sisi positif dengan adanya kalangan yang demikian yaitu semakin memperlebar ceruk pasar yang bisa dirambah. Terutama oleh mereka yang belakangan serius dalam berjualan barang antik. Harapan pasar semakin besar, dan mereka pun semakin giat berburu barang, bahkan hingga melintasi laut ke pulau seberang.
Namun kenyataan bahwa barang antik bukan barang yang dibutuhkan setiap saat, tetap dihadapi. Bahkan dibandingkan dengan barang sejenis, sama-sama mebel misalnya, mungkin frekuensi penjualannya masih lebih tinggi mebel terbaru dari pada mebel antik.

Dari semula para kolektor barang antik ini tidak pernah kawatir. Karena barang-barangnya itu tidak akan pernah kadaluarsa. Barang-barang miliknya yang berusia diatas enam puluh tahun sudah masuk dalam kategori antik. Semakin antik barangnya semakin tinggi harganya.


Orang Aneh

Orang-orang peminat barang antik adalah orang yang luar biasa, setidaknya demikian yang disampaikan Budi Satyadarma, 80, seorang kolektor sekaligus pemilik toko Pinguin yang berjualan barang-barang antik. "Coba, barang jelek dibeli mahal. Mungkin benar kata Ronggowarsito 'jaman sudah edan'. Bayangkan mereka membeli mobil sampai 2 milyar, mobil itu sudah kuno ngebut pun tidak bisa," paparnya pada Mossaik. Apa mau dikata yang jual dengan yang beli sama-sama senangnya.

Yang senang barang antik itu orang yang aneh. "Bagaimana tidak, ada barang baru dengan harga murah malah mencari barang lama yang harganya mahal," tukas Budi yang mengaku menekuni kegemaran itu sejak 50 tahun silam.

Sebuah lampu kerek atau yang juga dikenal dengan nama lampu Betawi itu, 40 tahun lalu silam ditawarkan seseorang yang naik becak kepadanya. Budi kemudian membelinya seharga dua ribu lima ratus rupiah. Dan sekarang harganya sudah berubah seratus kali lipat menjadi 250 ribu rupiah.

Dari sekian koleksi barang antik yang dimilikinya mungkin dari seluruh dunia. Hingga dia sendiri tidak bisa mengidentifikasi satu per satu. Hal ini mengingat masa pencariannya yang sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Barangnya itu ada yang dari orang datang menawarkan padanya, ada pula yang hasil pencarian dia dan anak buahnya.

Konon pria yang mengaku baru menikah di usia 40 tahun itu, juga mempunyai koleksi fosil berupa gigi dan tulang hewan. Diindikasi umurnya sudah 20 abad lebih. Menurutnya peminat barang itu tidak banyak hanya sebatas mereka yang mendalami ilmu Arkeologi.

Berkisah tentang pengalamannya dulu berburu barang-barang antik itu. Jaman dulu di Surabaya tepatnya disekitar lapangan Bibis banyak orang berkumpul melakukan transaksi barang antik. Tapi kalau sekarang yang demikian banyak di sekitar Gembong, walau sebenarnya yang banyak disana lebih pada barang bekas.

Kabarnya sekarang sudah banyak orang yang mengerti tentang barang antik, kebanyakan lagi mereka ingin menjual karena tahu nilainya. Relatif sudah tidak mencari lagi sekarang. Karena banyak orang yang datang dan menawarkan barangnya.

"Biasanya kalau barangnya jelek saya perbaiki dulu. Sudah lumrah kalau barang lama itu ada yang rusak di beberapa bagiannya," terang Budi ketika dijumpai Mossaik di tokonya di kawasan Panglima Sudirman. Menurutnya sekarang sudah jarang barang yang benar-benar tua. Malah yang ramai membuat barang baru kemudian dibuat seperti tua. Barang-barang yang baru dibuat lalu digosok-gosok hingga kelihatan tua. "Kalau saya 80% tahu yang mana yang barang tua asli. Tapi kalau mungkin berhadapan dengan orang yang pintar saya juga bisa tertipu," tutur Budi diiringi tawa.

Budi yang sebelum berjualan barang antik adalah pedagang bunga, yang kemudian berganti ke toko kue lalu menjual ice cream itu, mengaku pernah nyaris tertipu. Pernah ada orang yang menawarkan barangnya dalam bungkus karung. Ketika karung itu dimintanya dibuka diluar orangnya menolak. Maunya dibuka di dalam toko. Budi sudah curiga, akhirnya walaupun sudah tahu barangnya tetap dia tidak mau beli.

Pernah pula Budi dituduh sebagai penadah barang curian oleh Polisi. Kisahnya berawal ketika toko Pinguin didatangi seorang bermobil menawarkan pot-pot kuno. Dari penampilannya meyakinkan, sama sekali tidak mencurigakan. Pot-pot itu dibelinya lengkap dengan kuitansi.

Tapi beberapa waktu berselang polisi datang ke tokonya. Ternyata pot-pot itu adalah hasil curian. Dan polisi meminta barang-barang itu untuk proses penyelidikan. "Ya saya kasihkan barangnya terpaksa saya rugi, uang hilang dan barang pun tiada. Selain itu beberapa kali juga saya dipanggil polisi untuk wawancara. Itu salah satu dukanya," paparnya.

Di antara sekian barang antik yang sekarang sangat langka menurut Budi adalah Topeng. Topeng yang usianya sudah ratusan tahun harganya bisa 250 ribu rupiah. "Kalau topeng baru harganya cuma lima ribu," sergahnya. Biasanya walaupun sudah rusak-rusak orang masih mau, bahkan sangat diburu.

Begitu halnya dengan lukisan, kalau lukisan karya pelukis baru biasanya kurang laku. Tapi kalau pelukis-pelukis tua lebih bernilai tinggi. Seperti Basuki Abdullah bisa tinggi dan dicari orang, yang lain seperti Koempoel Soeyatno, yang sekarang lagi naik daun.

"Kalau gebyok itu biasanya didapat dari daerah-daerah sekitar Tuban dan Bojonegoro. "Kalau barang demikian yang garapannya halus biasanya harganya bisa jutaan. Tapi yang kasar cuma ratusan. Kenapa? Karena itu berhubungan dengan penggarapannya," jelasnya. Biasanya barang kuno yang terbuat dari bahan kayu lebih halus dibandingkan dengan buatan sekarang. Selain harus memperhatikan serat kayunya, sehingga ketahuan kalau itu barang antik atau baru.

Layaknya galeri barang antik, toko Pinguin juga menjadi jujukan para turis asing. Diantara turis yang sering membeli barangnya adalah dari Amerika dan Australia. Sementara turis dari Italia dan Perancis dinilainya agak pelit, biasanya kalau beli barang sampai di tawar hingga paling murah. Tapi dia tidak menyalahkannya karena di negaranya sendiri bisa jadi turis itu sangat sulit dalam mencari uang.

Diakui Budi belakangan pengunjung tokonya agak sepi. Sejak kejadian macam-macam di negeri ini pengunjung mulai sedikit, terlebih yang turis asing. Kala pengunjung sepi, dan keuangan toko mulai menipis untuk membayar gaji karyawannya. Menjual rugi barang-barang koleksinya pun dilakoni. "Habis tidak ada uang bagaimana," kilahnya.


Tanpa Musim

Dinamika bisnis barang antik terbilang khas. Diantaranya itu yang diyakini G. Gunawan, 30, pemilik Wanda Artshop di Jemur Gayungan. Menurutnya bisnis barang antik ini tidak ada musimnya. "Saya kemarin sempat takut karena musim kampanye ini. Tapi kenyataannya justru sebaliknya, malah penjualan lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya. Itu tidak bisa diprediksi," terangnya pada Mossaik.

Usaha yang baru dirintisnya sejak dua tahun lalu itu, sebelumnya berada di rumah sendiri. Sama dengan yang lain berawal dari senang mengoleksi barang antik walau sedikit. Kemudian menjurus kepada keseriusan bisnis.
Menurut Gunawan, yang mendorongnya untuk serius dalam berjualan barang antik lebih karena waktu itu krisis ekonomi. Selain itu juga karena ada temannya yang sangat tertarik dengan salah satu barang antik miliknya. "Akhirnya saya jual barang itu. Lama-kelamaan muncul ide, kenapa ini tidak saya seriusi saja," tuturnya lagi.

Mulai hunting barang antik ke beberapa daerah, barang yang didapatnya kemudian dikirim ke beberapa galeri, dia titipkan pada temannya. Kondisi ini ternyata tidak berjalan mulus. Kebanyakan barang sudah di tangan orang, tapi uangnya belum juga diterima. Demikian, lama kelamaan Gunawan mencoba untuk membuka toko sendiri. Ternyata itu lebih memberi hasil bagi dia dan keluarganya.

Diawal, koleksinya yang paling banyak adalah lampu, seperti lampu kerek, lampu dinding, kap lampu gantung dan sebagainya. Diantaranya sebuah lampu yang dibuat tahun 1910. Kalau sekarang barang antik yang ada di tokonya sudah campuran, ada yang memang barang kuno dan ada juga yang barang repro.
"Yang saya pikirkan kalau disini jual barang yang benar-benar antik semua, orang yang melihat pasti kurang meyakinkan. Seandainya tempatnya agak bagus mungkin lain lagi ceritanya. Orang-orang akan yakin kalau barang-barang didalamnya antik dan benar bernilai," paparnya.

Hingga sekarang artshopnya itu sering pula didatangi orang-orang dari galeri lain. Bila ada barang yang menarik biasanya langsung dibeli. Bahkan tak jarang juga berasal dari luar kota. Kenapa koleksinya lebih banyak lampu, Gunawan menjawab karena merasa lebih faham. Dia menghindari peralatan mebel dan keramik karena dia masih merasa awam.

Orang yang datang ke tokonya biasanya bukan orang yang sama sekali buta tentang barang antik. Sedikit-banyak mereka juga tahu mana yang benar-benar antik dan mana yang tidak. "Kadang ada juga orang yang datang tapi cuma ngetest," papar bapak dua putra ini. Karenanya Gunawan selalu menyampaikan apa adanya, ketika pelanggannya menanyakan tentang barang-barang yang ada di tokonya itu.

Selain dari hasil perburuannya, barang koleksi tokonya itu berasal dari orang yang menjual barang antik padanya. Seperti dari kolektor-kolektor yang mungkin sudah bosan dengan barang koleksinya. Selain itu juga ada yang dari para pedagang rombeng.

Namun kata Gunawan dia juga sudah punya semacam channel di beberapa daerah, seperti di Jember. Sebagai perpanjangan tangannya dalam mencari barang-barang antik. Jadi ketika ada informasi barang di sana ia akan segera datang.

Kalau pengalaman mencari barang sendiri menurut Gunawan lebih banyak dukanya. Seperti pengalamannya, begitu dia dengar dari orang kalau di suatu tempat ada barang. Begitu dikejar dan didatangi ternyata barangnya baru.

Gunawan mengaku pernah juga kawatir, suatu ketika barang yang benar-benar antik itu habis. Malah sekarang saja barang yang ada di tokonya sudah bisa dihitung tinggal berapa yang benar-benar barang antik. "Soalnya barang yang benar-benar antik itu biasanya cepat laku," sergahnya lagi.

Bom Bali

Stabilitas negeri ini ternyata sangat memberi pengaruh pada bisnis barang usang ini. Hampir semua sumber yang ditemui Mossaik setuju kalau belakangan setelah serentetan kejadian nasional, penjualan mereka mengalami penurunan.

Ronny Reppy, 33 tahun, pemilik Temuko Art Curio & Antiques, diantara yang setuju kalau bisnisnya mengalami penurunan. Bisnis keluarga yang sekarang ditekuninya penuh dinamika. "Yang paling terasa setelah bom Bali penjualan mulai drop. Bahkan banyak kawan-kawan yang punya artshop di Bali dan Jakarta beralih ke jualan makanan," terangnya ketika ditemui ditokonya di kawasan Padmosusastro.

Menurutnya setelah fenomena beberapa kejadian yang menimpa bangsa ini turis semakin berkurang yang datang. Kemudian siasat yang dilakukan Ronny adalah mencoba merambah ke pasar lokal. "Sebelumnya memang sudah ada pembeli lokal tapi tidak dominan. Pasar lokal memang daya belinya kurang, tapi dengan kondisi sekarang kita harus lebih melirik mereka," paparnya lagi.

Menurut pria kelahiran Jakarta ini walau kecil tidak masalah yang penting, bisnisnya jalan saja sudah bagus. Kalau sekarang barang yang dijualnya asal untung saja sudah dilepas. Beda dengan dulu waktu masih ramai, bertahan di harga sesuka hati pun masih mungkin. Kalau sekarang tidak bisa, misal beli seharga satu juta lalu ada yang nawar 2 atau 1,5 sudah dilepas.

Surabaya dinilainya masih lumayan dibandingkan dengan Denpasar dan Jakarta. Karena di kedua kota tersebut ketergantungannya pada pembeli asing sangat tinggi. "Kalau disini 20 persen pasar masih ada dari orang lokal. Diantaranya mereka yang hobi pada barang antik dan atau punya uang lebih," tuturnya.

Orang yang mencari barang antik berangkat dari dua faktor. Karena hobi atau karena mereka punya uang lebih. Kalau tidak salah satunya tidak mungkin berminat membeli barang antik. Karena alasan itu juga barang anti menjadi lebih lama untuk laku biasanya.

Barang-barang antik yang ada di sana sebenarnya bermacam-macam. Cuma karena terdapat beberapa mebel, seperti lemari, yang cukup besar sehingga tampak seperti pengoleksi mebel saja. Keramik-keramik dari China dan Jepang juga banyak. "Kalau mebel kebanyakan dari tanah Jawa, seperti dari Tuban hingga Rembang, Jawa Tengah. Walau demikian juga ada yang dari Eropa dan China," terang bapak tiga putri ini.

Kalau barang yang terbuat dari kayu usianya diatas 60 tahun sudah masuk kategori antik. Sedangkan barang-barang yang dari keramik biasanya baru dibilang antik setelah usianya lebih dari 100 tahun. Semakin tua semakin bernilai. Menurut Ronny barang antik itu hanya bagi mereka yang benar-benar hobi.

Barang antik yang sekarang lebih ramai peminatnya adalah yang berupa keramik, dibandingkan dengan mebel. Barang keramiknya dominan dari China peninggalan yang tidak terlalu tua, kalau dalam istilahnya mencari keramik peninggalan dinasti Cing saja sudah susah apalagi yang dinasti Ming. Ada juga dari Jepang dan Eropa.

Sementara kalau barang mebel antik jika hendak melihat keantikannya bisa dengan memperhatikan bahan kayu yaitu dari serat kayunya. Ronny yang mengaku sudah jarang berburu itu, mengatakan kalau sekarang semakin banyak orang yang menawarkan barang. Misalnya dengan menunjukkan foto padanya, baru beberapa hari kemudian didatangi tempat barang tersebut.

Sepertinya barang antiknya tidak perlu perawatan khusus. Mungkin hanya dengan membersihkan debu-debunya. "Jangan kuatir, tidak ada kadaluarsanya malah semakin tua semakin mahal," sergahnya diselingi tawa.

Bagaimana dengan harga? Harga barang antik tidak bisa ditentukan, patokannya adalah tergantung peminatnya kalau memang mereka sangat berminat apalagi seorang kolektor besar bisa ditawarkan harga yang lebih tinggi. Kuncinya asal kedua belah pihak sama-sama cocok.
Penjualan barang antik di Temuko, menurut Ronny tidak mesti juga. Dalam sebulan antara dua hingga lima item barang bisa laku saja sudah bagus. Terlebih dengan kondisi sekarang ini. Walau demikian itu pun kadang tidak pasti, sepanjang bulan bisa sama sekali tidak laku. Kadang pula dua atau tiga bulan berselang baru meraup keuntungan karena tiba-tiba barangnya laku banyak.

Beberapa barang kuno yang ada disana diantaranya berasal dari peninggalan leluhur sendiri. barang-barang yang awalnya merupakan koleksi pribadi itu, diantaranya tampak seperti peninggalan jaman kerajaan. Disana juga tampak Terakota, sebuah patung dari tanah liat yang menyerupai candi kecil, yang biasanya merupakan hiasan rumah di jaman dulu. Kemudian gamelan, pusaka keris, juga ada topeng. -az.alim


* Dimuat di Majalah Mossaik, Edisi Mei 2004

Label:


Komplitnya !
posted by Alim @ Kamis, Agustus 28, 2008   1 comments
About Me

Name: Alim
Home: Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
E-mail: parama.j@gmail.com
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
Template by

Free Blogger Templates

BLOGGER