Pusakanesia

Pusaka Negeri Untuk Berbakti

 
Aku
Hanya orang biasa yang suka memandangi keindahan masa kini. Aku suka menikmati indahnya masa silam pada bentuk yang masih tersisa. Aku hanya ALIM yang ingin berbagi apa yang pernah aku baca, aku lihat, dan aku dengar. Aku hanya ALIM yang ingin bersama-sama menjaga kenangan sejarah yang masih tersisa.
Aksi
Asa
Menapak kembali jalanan hidup. Walau kerikil khilaf dan salah menghadang, tetap harus kita tatap. Setelah sebulan kita berusaha membasuh jiwa, agar di 1 Syawal bisa kembali ke fitrah. Mari saling buka hati untuk menebar maaf. Melanglang hari baru dengan jiwa bersih dan tujuan mulia, menjadi hamba dengan ridho Ilahi. Amin!
Aktif

Free shoutbox @ ShoutMix
Hit
free hit counters
Tradisi Nyadar
05 Juli 2007


Nadar Leluhur dan Madu Samudra

Sebagai tradisi menghormati leluhur yang telah memberi jalan hidup. Sekaligus syukur pada ilahi yang telah menebar anugerah kehidupan.

Matahari terik mengiring mobil Mossaik menggelinding menyusur jalan di jalur selatan Pulau Madura. Setelah diawal pagi kami memulai perjalanan kali ini, sekitar empat jam kemudian akhirnya kami kembali sampai ke Sumenep untuk yang kesekian kalinya.
Upacara adat Nyadar, yang
sekarang menjadi target liputan kami. Adalah kekayaan tradisi masyarakat petani garam Desa Pinggir Papas. Walau orang Pinggir Papas yang begitu terikat melakoni tradisi ini setiap tahun, namun kenyataannya tradisi Nyadar sudah menjadi milik semua orang.
Tak heran bila setiap kali pelaksanaannya, orang-orang dari seluruh penjuru datang dengan motivasinya masing-masing. Maka jadilah upacara tradisi ini tumpah-ruah dengan orang-orang, baik ketika acara ziarah di hari pertama. Maupun di acara haul, atau yang mereka sebut dengan Kaoman, pada hari berikutnya.
Nyadar dilakukan di sekitar komplek makam leluhur, disebut juga asta, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Bujuk Gubang. Dalam setahun dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang. Pada Nyadar ketiga biasa mereka sebut dengan Nyadar Bengko.
Lokasi tersebut berada di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi yang masih masuk Kabupaten Sumenep. Dari kota Sumenep sendiri untuk menuju lokasi masih harus menempuh jarak sekitar 13 kilometer lagi ke arah Selatan. Bila membawa kendaraan pribadi akan lebih baik, namun kalau terpaksa harus menggunakan kendaraan umum, di sana pun tersedia. Tidak perlu kawatir kesasar, karena lokasinya sangat terkenal, bertanya kepada penduduk setempat pasti tahu tempatnya.
Mossaik kali ini datang pada pelaksanaan upacara Nyadar yang pertama. Yang jatuh pada tanggal 23 dan 24 Juli 2005 H. Bila menurut perhitungan bulan, jatuh pada tanggal 17. Konon penentuan waktu pelaksanaan Nyadar berdasar musyawarah para pemuka adat, yang masih merupakan keturunan dari leluhur yang dimakamkan di asta itu.
Salah satu referensi Mossaik menyebutkan beberapa syarat sehubungan dengan pelaksanaan Nyadar. Syarat tersebut terdapat kaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Yang pertama, pelaksanaan upacara tidak diperkenankan diadakan sebelum tanggal 12 Maulid.
Kedua, selamatan yang tidak boleh melebihi besarnya selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan syarat yang lain adalah para peserta upacara Nyadar terlebih dahulu diwajibkan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dari syarat tersebut selain mengindikasikan bahwa Nyadar tumbuh dan berkembang setelah Islam masuk. Selain itu juga mengimplikasikan bahwa penghormatan terhadap leluhur mereka tidak boleh melebihi penghormatan terhadap Rasulullah.

Dari Leluhur
Bila pada Nyadar pertama dan kedua dilakukan di sekitar asta Syeh Anggasuto, Syeh Kabasa, Syeh Dukun, dan Syeh Bangsa yang ada di Desa Kebundadap Barat, pada Nyadar ketiga dilakukan di desa Pinggir Papas.
Konon hal ini juga berangkat dari nadar Syeh Dukun, yang juga ingin melakukan syukur tetapi hanya di lingkungan rumahnya (dalam Bahasa Madura disebut bengko) atau diantara keluarganya sendiri. Namun demikian ada yang khas dari pelekasanaan Nyadar ketiga ini.
Di Nyadar ketiga ini, pada malam harinya biasanya diikuti dengan kesenian mocopat atau membaca layang. Dimana tulisannya masih menggunakan tulisan Jawa kuno dengan media daun lontar. Jalannya cerita dalam mocopat tersebut, yang pertama adalah Jati Suara. Cerita Jatiswara ini mengisahkan jalannya nyawa dan raga dari perjalanan hidup manusia. Kemudian yang kedua ceritanya Sampurnaning Sembah. Yang kedua ini lebih mengisahkan jalannya bakti manusia kepada sang Pencipta, atau hal Syari’at.
Mungkin ada yang penasaran bagaimana asal mula Nyadar. Untuk menjawab hal itu, Mossaik sempat menemui Satija, salah satu sesepuh adat. Sebelum menuturkan kisah sepanjang yang diketahuinya, pria 64 tahun ini berulang-ulang menegaskan bahwa yang akan diceritakannya itu adalah juga berdasar dari cerita ke cerita dari pendahulunya.
Karena memang tidak ada goresan catatan yang secara lengkap merekam asal mula Nyadar. ”Ini katanya, saya sendiri tidak tahu, karena itu sudah terjadi sejak ratusan tahun silam,” tegasnya. Asal mula Nyadar menurut Satija, karena seorang, yang kemudian dia sebut dengan ahli cipta, di Pinggirpapas.
Dia adalah Anggasuto, pada suatu malam melakukan Istigharah. Memohon kepada Tuhan yang maha Esa, jika dia memang ditakdirkan hidup di daerah tersebut. Apa yang bisa dijadikannya sebagai sumber hidup atau mata pencaharian baginya. Sebab di daerah tersebut adalah daerah pesisir pantai. Yang bisa dibayangkan bagaimana kondisinya.
Konon, Tuhan mengabulkan dan memberinya petunjuk. Anggasuto semacam diminta untuk berjalan menuju pesisir pantai. Pada suatu waktu, Anggasuto berjalan ke arah pantai. Karena tanah di pantai itu begitu lembek, hingga membentuk tapak kakinya. Selang waktu berjalan, bekas tapak kaki tersebut terisi oleh air laut.
Beberapa hari kemudian, Anggasuto kembali berjalan ke arah pantai. Dia memperhatikan sesuatu di bekas tapak kakinya itu. Dijumpainya bekas tapak kaki itu dipenuhi oleh benda yang berwarna putih. Anggasuto sempat bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan benda putih tersebut? Adakah benda putih itu adalah madduna sagara (Madunya Samudra, red)?
Akhir kata, benda itu kemudian oleh Anggasuto disebut dengan Buja, yang merupakan istilah bahasa Madura untuk garam. Maka, hingga sekarang benda itu dikenal dengan nama buja atau garam. Kabarnya kisah itu sudah tersiar ke segala penjuru daerah. ”Ini berarti garam merupakan temuan Anggasuto,” tegas Satija lagi.
Seiring perputaran jaman, temuannya itu ternyata memberi manfaat bagi seluruh manusia di penjuru Nusantara. Dimana pola mata pencaharian sebagai petani garam kemudian juga dilakukan oleh beberapa masyarakat di daerah lain seperti di Bali dan Sumatera.
Dan waktu terus berjalan, orang-orang di daerah Pinggirpapas masa itu, dengan bimbingan Anggasuto terus mempelajari bagaimana memetak tanah untuk ladang garam. Selain itu juga cara memindah-mindah air laut.
Dari air kesatu hingga air kedua puluh lima yang baru menjadi garam. Yang dimaksud disini adalah kadar air. Kemudian daerah tersebut disebut dengan padaran atau sekarang dikenal dengan talangan. Maka jadilah daerah tersebut dengan hamparan ladang garam, dan mayoritas masyarakatnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani garam.
Konon setelah garam-garam itu menunjukkan hasil, Anggasuto sebagai manusia yang senantiasa tidak lupa pada sang pemberi rejeki. Suatu ketika dia pun bernadar, setiap jatuh pada bulan dan tanggal panas matahari (masuk musim kemarau) akan melakukan Nyadar, semacam bakti syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Maka jadilah dilakukan upacara Nyadar pertama.
Dalam perjalanan waktu adik dari Anggasuto, Kabasa, juga melakukan nadar yang sama. Maka jadilah upacara Nyadar yang kedua. Yang waktunya satu bulan berselang setelah Nyadar pertama dilakukan. Demikian halnya pada pelaksanaan Nyadar ketiga, yang merupakan nadar dari Dukun. Berdasar referensi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep menyebutkan Syeh Dukun ini adalah pembantu Anggasuto yang berasal dari Banten.
Demikian menurut Satija asal mulanya Nyadar yang sangat terkait dengan asal mula ditemukanya garam. Secara umum, Nyadar sendiri adalah semacam Syukuran/Haul atau mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan.
Sehubungan dengan keramaian yang mengiringi upacara adat ini awalnya adalah orang Pinggirpapas sendiri yang datang ke Desa Kebundadap bahkan bermalam di sana. Sementara pada malam hari biasanya dilokasi juga akan ramai. Di areal tersebut tiba-tiba berubah bak pasar malam. Banyak orang berjualan dan juga banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru daerah.
Memang sekilas di area dekat asta itu mirip dengan pameran. Beberapa pedagang dadakan datang dan menggelar dagangannya. Ini yang kemudian menjadi hiburan alternatif bagi masyarakat sekitar. Pengunjung pun berjubel, ada yang membeli beberapa barang atau sekedar jalan-jalan biasa.-az alim
---- o O o ----

Titip Doa lewat Bunga

Perjalanan ritual Nyadar secara prinsip bisa dibedakan menjadi dua bagian utama. Pada hari pertama acara puncaknya adalah ziarah di makam para leluhur yang ada di Bujuk Gubang. Sedangkan pada hari berikutnya adalah haul atau yang lebih dikenal dengan Kaoman.
Selama dua hari Mossaik mencoba mereka setiap runtutan ritual upacara Nyadar. Bapak Satija, salah seorang pemuka adat, menegaskan doa-doa yang dibacakan dalam ritual Nyadar adalah berdasar cara Islam. Dan beberapa yang lain juga ada yang menggunakan mantra khusus. Menurutnya, upacara Nyadar saat ini sudah menjadi tradisi di masyarakat.
Karena tempat pelaksanaan upacara di desa Kebundadap maka orang-orang Pinggir Papas pada setiap kali pelaksanaan Nyadar akan numpang tinggal atau kos selama sehari semalam di rumah-rumah penduduk Desa Kebundadap. Padahal untuk mencapai lokasi tersebut, mereka harus menyeberangi sungai Sarokah yang cukup lebar dan berarus deras. Mereka menginap tanpa sewa, semata karena keihlasan masyarakat Kebundadap.
Pada Minggu (23/07) Mossaik tiba di lokasi sekitar jam 13.30 WIB. Sungguh diluar dugaan, di area sekitar asta sudah banyak orang. Beberapa sudah bersiap dengan menunggu di sekitar pintu asta. Pada asta Bujuk Gubang terdapat dua pintu. Kedua pintu tersebut berukuran cukup kecil, sekitar 1,5 meter dengan tinggi tak lebih dari dua meter.
Di pintu inilah yang kelak akan terjadi peristiwa dramatis. Dimana para peziarah ini akan berebut masuk. Karena keyakinan mereka, barang siapa yang bisa lebih dulu masuk dan segera memanjatkan doa di depan makam atau pasarean leluhur mereka, doanya akan terijabah. ”Rasanya lebih afdol kalau bisa masuk lebih dahulu Mas,” ujar salah seorang peziarah.
Terik matahari masih menyapu kawasan yang berada di bibir sungai Sarokah itu. dan orang-orang masih terus berdatangan. Ada yang melalui jalan darat, ada pula yang datang dengan perahu. Hingga dua jam berikutnya belum tampak ritual segera mulai.
Namun beberapa saat kemudian, tampak beberapa orang datang, tanpa sepatah kata mereka langsung mengambil posisi bersilah di depan pintu yang masih tertutup rapat. Kesibukan lain ada di pendopo kecil yang letaknya berhadapan dengan pintu asta.
Di sana terdapat begitu banyak bungkusan daun pisang yang berisi bunga untuk ziarah. Bunga-bunga itu berasal dari para peziarah yang sempat datang ke sana atau mereka yang tidak bisa datang sekedar titip doa dengan mengirimkan bunga-bunga itu. Konon, segala doa yang kelak dibacakan oleh pemuka adat adalah bukan untuk sebagian orang atau kalangan tertentu. Tetapi doa mereka adalah untuk seluruh umat manusia.
Bunga-bunga itu kemudian dijadikan satu. Tak kurang dari 20 orang wanita paruh baya yang membuka bungkusan bunga itu. kemudian ditumpuk dalam wadah besar untuk kemudian dibawa masuk dan diletakkan di masing-masing makam leluhur mereka. Ribuan doa dan harapan membubung menyatu dalam tumpukan bunga yang menebar aroma semerbak itu.
Orang-orang yang sudah duduk memadati pelataran asta tetap dengan diamnya. Suara yang ramai dan justru menggangu adalah berasal dari para penjual ice cream. Namun para peziarah dan pemuka adat yang mulai melakukan ritual itu sedikit pun tidak merasa terganggu.
Tepat jam 16.00 WIB, setelah beberapa ritual pendahulu dilakukan, dan pintu asta pun dibuka. Tak ayal par peziarah pun sontak berebut masuk. Mereka yang rata-rata pria dewasa berdesak-desakan untuk menjadi yang pertama mencapai pasareyan atau makam leluhur mereka. Sedangkan yang wanita memilih menunggu, dan masuk setelah kondisi agak longgar.
Benar saja, dengan ribuan orang yang berebut masuk, sementara pintu yang akan dilewati begitu kecil, beberapa diantara mereka adaya yang terjungkal karena terdorong oleh yang lain. Namun tiada emosi diantara mereka. Yang ada hanya hasrat supaya lebih dulu mencapai pasareyan leluhur, agar segera mengiring doa bersama pribadi luhur yang telah lebih dahulu menghadap Sang Khalik itu.
Itu merupakan puncak ziarah pada tradisi Nyadar di hari pertama. Di sekitar lokasi Bujuk Gubang masih juga ramai. Walau perlahan peziarah mulai meninggalkan asta, namun masih ada saja beberapa yang datang. Bahkan hingga mentari telah turun di peraduannya masih ada saja yang tetap berkirim doa, atau sekedar membaca Al Qur-an.

Kaoman
Senja datang, tak juga menyurutkan orang yang datang di lokasi Nyadar. Malam hari menjadi waktu lain yang menyenangkan, terutama bagi kaum mudanya. Pasar malam dadakan yang hanya semalam menjadi arena refresing bagi mereka. Layaknya pasar malam, setidaknya mereka bisa cuci mata atau mendapatkan barang-barang kebutuhan dangan harga pameran.
Sementara bagi penduduk sendiri malam itu akan digunakan untuk memasak makanan guna persiapan untuk acara haul keesokan harinya. Tradisi yang ada, tidak ada seorang pun yang memulai memasak bila ketua pemuka adat belum memulai menyalakan api di tungkunya.
Malam itu Mossaik berada di rumah Ramana Kasa, 80 tahun, -lah ketua pemuka adat yang merupakan generasi kesembilan dari Syeh Kabasa. Beliau sudah 12 tahun berjalan memegang tampuk pimpinan pemuka adat yang ternyata ditentukan secara turun-temurun itu.
Di halaman rumah beliau sudah siap lima buah tunggu dari tanah liat. Menurut Mbah Kasa, untuk sekedar menyalakan api di tungku itu saja ada orangnya sendiri. Dan tidak bisa sembarang orang boleh melakukannya. Termasuk ketika beliau diminta untuk bercerita tentang Nyadar. Menurutnya itu sudah ada bagiannya sendiri-sendiri. Menurutnya setelah api tungku di rumahnya mulai menyala, maka akan diikuti oleh nyala api di tungku di rumah-rumah penduduk yang lain.
Memasak makan akan dilakukan malam itu, hingga semua siap walau itu akan memakan waktu semalam suntuk. Semua demi persiapan haul yang akan dilakukan besok pagi di areal lapang sekitar 100 meter dari pelataran asta.
Keesokan hari, sekitar jam 07.00 WIB Mossaik sudah berada di lokasi kembali. Tampak masyarakat sudah banyak, berdiri di bagian pinggir sambil menunggu detik-detik acara Kaoman dimulai. Di tengah halaman sudah tampak. Beberapa orang pemuka adat duduk dengan pakai hitam dan mengenakan udeng khas mereka berwarna gelap.
Seperti kemarin, mereka juga diam tanpa kata. Hanya melayani dengan salaman bila ada orang yang datang. Mereka tampak begitu berkonsentrasi, atau mungkin sedang membaca doa tertentu. Di sekitar mereka juga sudah banyak orang peserta haul yang duduk dan dihadapan mereka terdapat Panjeng (piring kuno yang berukuran besar) yang menjadi wadah makanan yang mereka masak semalam. Panjeng itu mereka tutup dengan Tanggik (penutup yang terbuat dari anyaman daun lontar yang dicat berwarna merah).
Sedikit kisah tentang panjeng, konon mereka yang memiliki panjang tersebut masih mempunyai darah keturunan dari para leluhur tersbut. Siapapun mereka yang memiliki panjang akan datang dan ikut dalam upacara Nyadar. Menurut Satija, seorang sumber Mossaik, pada tahun kemarin saja terdapat sampai ratusan panjeng. Dan pemilik panjang ini ada juga yang berdomisili di luar daerah, dan mereka akan datang ketika perhelatan Nyadar tiba.
Di dalam panjeng tersebut berisi nasi, di atasnya terdapat ayam goreng dan dihiasi lembaran telur dadar yang diiris. Cukup banyak panjeng yang tampak pagi itu. Di sampingnya juga tampak beberapa orang sedang menunggu.
Tepat jam 08.00 tampak empat orang berdiri dengan pakaian khas, yang mereka sebut dengan Rasogan Racok Saebu. Mereka kemudian berjalan menuju asta. Setelah melakukan beberapa ritual di sana, mereka yang ternyata disebut sebagai penghulu itu kembali ke area haul. Tampak pula mereka mengitari arena, seakan mereka menghitung jumlah panjeng yang ada.
Beberapa saat kemudian salah seorang pemuka adat tampak memimpin doa. Dan semua orang yang ada di sana mengamini. Cukup panjang doa yang dibaca, hingga panas sengatan matahari yang mulai tinggi pun tiada terasa. Setelah doa selesai, serentak tanggik itu dibuka. Dan mereka yang ada disekitar panjeng itu menyantab nasi yang ada di dalamnya. Tidak banyak, hanya satu-dua suap saja.
Ini merupakan akhir dari haul atau kaoman di upacara adat Nyadar. Berikutnya, makanan yang da di panjeng itu mereka masukkan ke dalam bakul besar yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Setelah itu segera mereka bawa pulang ke rumah masing-masing di Pinggir Papas dan sekitarnya.
Dan tampak mereka bergegas, mereka yang menggunakan jalan darat akan segera naik ke mobil yang mereka siapkan sebelumnya. Sementara mereka yang menggunakan jalur sungai, akan segera menuju bibir sungai untuk antri menunggu perahu-perahu yang memberikan jasa nyeberang di sungai Sarokah itu.
Nyadar, kini sudah jadi tradisi. Tidak hanya milik orang Pinggir Papas, tetapi sudah menjadi kekayaan budaya dan tradisi di ranah Sumenep. Tinggal bagaimana kita menjaga keabadian tradisi ini. Semua kembali kepada niat hati untuk tetap tulus menghormati leluhur dan tetap menjaga jati diri.-az alim

*Dimuat di Majalah Mossaik, September 2005

Label:

posted by Alim @ Kamis, Juli 05, 2007  
1 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
About Me

Name: Alim
Home: Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
E-mail: parama.j@gmail.com
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
Template by

Free Blogger Templates

BLOGGER