Pusakanesia

Pusaka Negeri Untuk Berbakti

 
Aku
Hanya orang biasa yang suka memandangi keindahan masa kini. Aku suka menikmati indahnya masa silam pada bentuk yang masih tersisa. Aku hanya ALIM yang ingin berbagi apa yang pernah aku baca, aku lihat, dan aku dengar. Aku hanya ALIM yang ingin bersama-sama menjaga kenangan sejarah yang masih tersisa.
Aksi
Asa
Menapak kembali jalanan hidup. Walau kerikil khilaf dan salah menghadang, tetap harus kita tatap. Setelah sebulan kita berusaha membasuh jiwa, agar di 1 Syawal bisa kembali ke fitrah. Mari saling buka hati untuk menebar maaf. Melanglang hari baru dengan jiwa bersih dan tujuan mulia, menjadi hamba dengan ridho Ilahi. Amin!
Aktif

Free shoutbox @ ShoutMix
Hit
free hit counters
Sejarah Surabaya
01 Agustus 2007
Kenangan WR. Supratman

Menilik perjalanan sejarah bangsa ini seakan tiada habis, begitu banyak bukti bisu yang bisa dicermati. Di Surabaya yang menyandang predikat Kota Pahlawan, beberapa peninggalan para tokoh pejuang kemerdekaan masih tegar berdiri.

Sebuah rumah di jalan Mangga 21, Kelurahan Tambaksari satu diantaranya. Di sinilah seorang Wage Rudolf Supratman pernah tinggal. Setelah dari Makasar sebelum kemudian berangkat ke Batavia untuk menjadi anggota pergerakan pemuda, kala itu, bahkan setelah dia dikejar-kejar tentara Hindia-Belanda.
Rumah yang sekarang difungsikan sebagai museum mini oleh para ahli waris WR. Supratman ini kemudian diurus oleh Lembaga Pengkajian "Kota Pahlawan", yang memegang mandat langsung dari para ahli warisnya. Dalam sejarahnya rumah ini sebenarnya adalah milik Pemerintah Surabaya yang disewa oleh kakak tertua Supratman. Dan tiap bulan mereka membayar sewa rumah tersebut ke kantor pemda di jalan Jimerto sana.
Di rumah ini pula, seorang WR. Supratman menjadi lebih produktif dalam mencipta lagu-lagu. Walaupun penciptaanya kala itu berdasar pesanan dari beberapa rekan seperjuangan, seperti Dr. Soetomo dan Pak. Doho. Di rumah inilah aliran inspirasi terlahir, seperti halnya di masa mudanya yang sempat memimpin sebuah kelompok musik beraliran jazz dengan nama Black and White, di Makasar sana.
Di rumah ini pula menjadi saksi dari akhir proses penciptaan lagu terakhirnya yang baru tergores sebagai syair yang berjudul 'Selamat Tinggal'. Lembaran kertas itu menjadi sisa sejarah yang masih tersimpan rapi. Tapi sangat disayangkan alat musik Biola kebanggaannya tidak bisa dijumpai di sana. Menurut Ir. Oerip Soedarman, keponakan-sepupunya, benda itu sekarang disimpan di musium Sumpah Pemuda di Jakarta.
Ketika terjadi pergolakan di Surabaya, terakhir rumah ini ditempati oleh adik termuda Supratman. Ketika pecah perang 10 Nopember 1945, rumah tersebut ditinggal mengungsi oleh penghuninya ke Lawang. Ketika pemerintahan boneka NICA di Surabaya. Saudara termuda Supratman kembali ke rumah tersebut. Tapi kenyataan yang terjadi rumah tersebut telah dihuni oleh orang dari etnis China. Ternyata ketika orang-orang ngungsi, orang China tersebut masuk, namun sebelumnya barang-barang di dalamnya sudah habis dijarah orang. Termasuk dokumen-dokumen WR. Supratman. "Untungnya Biola Supratman sudah dibawa ke Jakarta oleh saudara tertuanya." tegas Oerip Soedarman, suatu ketika.
Upaya yang dilakukan untuk mengambil alih kembali rumah tersebut, diupayakan oleh Oerip Kasansengari, orang tua Oerip Soedarman. Dengan bantuan pejabat Pemda, baru pada tahun 1975 rumah tersebut kembali kepada para ahli warisnya. Sejak tahun '75 itu menjadi tidak terurus. Kuncinya pun sekedar dititipkan pada RT atau RW setempat. Selanjutnya upaya untuk menjaga keutuhan bangunan tersebut dilakukan. Sangat disayangkan, justru pihak keluarga mendapatkan suntikan dana dari pihak swasta. Bukan dari Pemerintah yang seharusnya lebih berkepentingan untuk menjaga cagar sejarahnya.

Lahirnya 'Indonesia Raya'

Perjalanan pergerakan Supratman semakin jadi setelah di pindah ke Batavia (sekarang Jakarta), akibatnya dia semakin sering diajak mengikuti rapat-rapat yang biasa diselenggarakan di gedung pertemuan di gang Kenari, yang sekarang sudah dijadikan musium Sumpah Pemuda. Sembari berjuang WR. Supratman bekerja sebagai wartawan pada harian 'Sin Po'. Sambil mencari informasi, dia mulai banyak berkenalan dengan para tokoh pemuda pergerakan. Di gang Kenari itulah dilakukan Kongres Pemuda Indonesia ke II, di mana dilahirkan Sumpah Pemuda. Lagu Indonesia Raya tercipta pada saat itu pula.
Penciptaan lagu Indonesia Raya, sebenarnya dimulai sejak tahun 1926 dan baru selesai menjelang dilaksanakannya kongres Pemuda ke II. Penciptaan lagu ini juga merupakan permintaan dari Soekarno yang juga dekat dengan para pemuda pergerakan. Konon keinginan WR. Soepratman untuk menciptakan lagu kebangsaan mulai timbul setelah beliau membaca sebuah majalah yang bernama Timbul, terbitan Solo. Kembali naluri seni WR. Supratman menggelembung sebelum akhirnya meletup melahirkan mahakarya yang menjadi lagu kebangsaan Indonesia.
Lagu yang sudah jadi itu ternyata mendapat tanggapan negatif dari pemerintah Hindia-Belanda, yaitu berupa larangan menyanyikan lagu di luar ruangan. Hal ini disebabkan dalam syair lagu tersebut berisi kata-kata "Merdeka, merdeka…". Kemudian agar lagu itu diperkenankan dinyanyikan pada saat kongres, langkah politis anjuran Husni Thamrin, maka kata 'Merdeka' diganti menjadi 'Mulia, mulia…'. Pada saat kongres lagu tersebut jadi dilantunkan dengan dipimpin langsung oleh WR. Supratman, diiringai kor pemuda-pemudi pelajar Indonesia serta suara Biolanya.
Dari kongres itulah kemudian diakui lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, dimana lahirnya bersamaan dengan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Namun demikian sukses itu memberi dampak buruk terhadap pemuda Supratman. Sejak saat itu pula dia menjadi satu dari sekian orang yang selalu dicari dan dikejar oleh para pasukan Hindia-Belanda. Mulailah masa suram dialami WR. Supratman, dia mulai cenderung jadi pemuda yang pendiam, bahkan jatuh sakit hingga akhirnya ajal menjemput.

Sang Pahlawan

Penghargaan terhadap WR. Supratman sebenarnya berasal dari inisiatif para ahli warisnya. Peran serta pemerintah ada tatkala diberikan pengakuan bahwa pria lajang yang lahir 9 Maret 1903 ini adalah seorang tokoh perjuangan bangsa. Pemerintah Kota Surabaya dengan positif memberikan dukungan terhadap pemugaran makam WR. Supratman.
Bank Indonesia telah menunjukkan perhatiannya, dengan menggunakan gambar foto WR. Supratman di lembar mata uang 50 ribu. BI memberikan kompensasi sebesar 100 juta. Keseluruhan dana tersebut digunakan untuk menyelesaikan pemugaran makam WR. Supratman. Langkah pemugaran yang dimulai sejak tahun 2000 itu mendapat dukungan Sunarto Sumoprawiro, ketika masih menjabat sebagai Walikota Surabaya. Pembangunan Makam tersebut diperkirakan memakan dana sebesar Rp 1 M, hingga penyelesaiannya lama karena dukungan dana masih tergantung pada sokongan APBD Surabaya.
Sementara ini yang di pugar adalah makam, sedangkan rumah belum. Namun pada tanggal 9 Maret 2003 ini, bertepatan dengan 100 tahun WR. Supratman, bangunan makam tersebut akan diresmikan beserta rumah di jalan Mangga tersebut yang fungsinya sudah menjadi musium mini. "Bersamaan dengan itu kami dari pihak ahli waris akan meluncurkan buku yang berjudul 'Sejarah Lagu Indonesia Raya'" jelas Soedarman lagi.
Dengan adanya musium ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi para murid-murid, pemerhati sejarah, pengamat dan sebagainya. Paling tidak mengingat akan jasa pahlawan nasionalnya, yang juga pernah mendapat bintang Mahaputra Utama itu. -az.alim

Label:

posted by Alim @ Rabu, Agustus 01, 2007  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
About Me

Name: Alim
Home: Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
E-mail: parama.j@gmail.com
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
Template by

Free Blogger Templates

BLOGGER